TAHAPAN KEGIATAN PERTAMBANGAN TIMAH



1.             EKSPLORASI
Eksplorasi adalah segala kegiatan sebelum aktivitas penambangan yang dikhususkan untuk mengetahui, memperkirakan, dan mendapatkan ukuran, bentuk, posisi, kadar rata–rata serta jumlah cadangan suatu endapan mineral agar dapat menentukan kualitas dan kuantitas dari suatu endapan tersebut diperuntukkan mengetahui nilai ekonomisnya. Beberapa ilmu penunjang yang mendukung kegiatan eksplorasi ini antara lain Geologi, mineral, genesa bahan galian, Teknik eksplorasi, geofisika, geokimia, Analisis cadangan, geostatistik, Hidrogeologi, dan geoteknik.
Eksplorasi merupakan salah satu kegiatan untuk mengetahui :
·      Kadar (%, gram/ton, kg/mᶟ, kalori)
·      Bentuk endapan
·      Kedalaman endapan
·      Penyebaran (lateral, vertikal)
·      Posisi endapan (miring, datar, vertikal)
·      Sifat-sifat fisik endapan (lunak, keras)
·      Sifat-sifat batuan samping
·      Jumlah cadangan
Macam – macam metode di dalam teknik eksplorasi :
·      Metode pemetaan geologi
·      Metode geokimia
·      Metode geofisika
·      Metodpittrenchstrip
·      Metode pemetaan tambang
·      Metode pemboran

2.             OPERASIONAL PENAMBANGAN ( EKPLOITASI ) 
Didalam proses penambangan timah dikenal 2 jenis penambangan yang dikenal di Bangka Belitung:
a.         Penambangan Lepas Pantai (laut lepas)
Pada kegiatan penambangan lepas pantai, digunakan armada kapal keruk untuk operasi produksi di daerah lepas pantai (off shore). Kapal keruk dapat beroperasi mulai dari kedalaman 15-50 meter di bawah permukaan laut dan mampu menggali lebih dari 3,5 juta meter kubik material setiap bulan. Hasil produksi bijih timah dari kapal keruk diproses di instalasi pencucian untuk mendapatkan kadar minimal 30%. Bijih timah hasil dari pengerukan biasanya mengandung 20-30 % timah. Setelah dilakukan proses pengolahan mineral maka kadar kandungan timah menjadi lebih dari 70 %.
b.         Penambangan Timah Darat - Gravel Pump
Proses penambangan timah alluvial menggunakan pompa semprot (gravel pump). Penambangan timah darat menghasilkan wilayah sungai besar yang disebut dengan kolong/danau. Kolong/danau itulah merupakan inti utama cara kerja penambangan darat, karena pola kerja penambangan darat sangat tergantung pada pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air dalam jumlah besar. Sehingga bila kita lihat dari udara, penambangan timah darat selalu menimbulkan genangan ari dalam jumlah besar seperti danau dan tampak berlubang-lubang besar.
Hampir 80% dari total produksi berasal dari penambangan di darat mulai dari tambang skala kecil berkapasitas 20 m3/jam sampai dengan tambang besar berkapasitas 100 m3/jam. Produksi penambangan timah menghasilkan bijih pasir timah dengan kadar tertentu. Bijih timah hasil penambangan darat biasanya mengandung kadar timah yang sudah cukup tinggi, yaitu lebih dari 60%. 

3.             PENGOLAHAN( Proses Pengolahan Timah )
a.           Pemisahan berdasarkan ukuran atau screening/sizing dan uji kadar  
Bijih yang didapatkan dari hasil pencucian pada ore bin lalu dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran dengan menggunakan alat screen dan mesh, setelah itu dilakukan pengujian untuk mengetahui kadar bijih setelah pencucian. Prosedur penelitian kadar tersebut adalah mengamatinya dengan mikroskop dan menghitung jumlah butir dimana butir timah dan pengotornya memiliki karakteristik yang berbeda sehinga dapat diketahui kadar atau jumlah kandungan timah pada bijih.
b.           Washing atau Pencucian
Pencucian timah dilakukan dengan memasukkan bijih timah ke dalam ore bin. Di dalam ore bin itu bijih dicuci dengan menggunakan air tekanan dan debit yang sesuai dengan umpan.
c.           Pemisahan berdasarkan berat jenis
Proses pemisahan ini menggunakan alat yang disebut Jig Harz. Bijih timah yang mempunyai berat jenis lebih berat akan mengalir ke bawah yang berarti kadar timah tinggi sedangkan sisanya, yang berkadar rendah yang juga berarti mengandung pengotor lainya seperti quarsa, zircon, rutile, ciderite dan sebagainya akan ditampung dan dialirkan ke dalam trapezium Jig Yuba.
d.          Pengolahan tailing
Proses ini adalah dengan gaya sentrifugal. Namun saat ini proses ini sudah tidak lagi digunakan karena tidak efisien karena kapasitas dari alat pengolah ini adalah 60 kg/jam.
e.           Proses Pengeringan
Proses pengeringan dilakukan didalam rotary dryer. Prinsip kerjanya adalah dengan memanaskan pipa besi yang berada di tengah rotary dryer dengan cara mengalirkan api yang didapat dari pembakaran dengan menggunakan solar.
f.            Klasifikasi
Bijih–bijih timah selanjutnya akan dilakukan proses–proses pemisahan/ klasifikasi lanjutan yakni:
·         Klasifikasi berdasarkan ukuran butir dengan screening
·         Klasifikasi berdasarkan sifat konduktivitasnya dengan High Tension separator
·         Klasifikai  berdasarkan sifat kemagnetannya dengan Magnetic separator
·         Klasifikasi berdasarkan berat jenis dengan menggunakan alat seperti shaking table, air table dan multi gravity separator
g.           Pemisahan Mineral Ikutan
Mineral ikutan pada bijih timah yang memiliki nilai yang terbilang tinggi seperti zircon dan thorium (unsur radioaktif) akan diambil dengan mengolah kembali bijih timah. Mula-mula bijih diayak dengan vibrator listrik berkecepatan tinggi dan disaring/screening sehingga akan terpisah antara mineral halus berupa cassiterite dan mineral kasar yang merupakan ikutan. Mineral ikutan tersebut kemudian diolah pada air table sehingga menjadi konsentrat yang selanjutnya dilakukan proses smelting, sedangkan tailingnya dibuang ke tempat penampungan. Mineral-mineral tersebut lalu dipisahkan dengan high tension separator - pemisahan berdasarkan sifat konduktivitasnya. Mineral konduktor antara lain Cassiterite dan Ilmenite. Mineral nonkonduktor antara lain Thorium, Zircon dan Xenotime. Lalu masing-masing dipisahkan kembali berdasarkan kemagnetikannya dengan magnetic separation sehingga dihasilkan secara terpisah antara Thorium dan Zircon.

4.             PELEBURAN (SMELTING)
a.       Proses pre-smelting
Setelah dilakukan proses pengolahan mineral dilakukan proses pre-smelting yaitu proses yang dilakukan sebelum dilakukannya proses peleburan, misalnya preparasi material, pengontrolan dan penimbangan sehingga untuk proses pengolahan timah akan efisien.
b.      Proses Peleburan ( Smelting
Ada dua tahap dalam proses peleburan, yaitu:
·         Peleburan tahap I yang menghasilkan timah kasar dan slag/terak
·         Peleburan tahap II yakni peleburan slag sehingga menghasilkan hardhead dan slag II.
Proses peleburan berlangsung selama 24 jam dalam tanur guna menghindari kerusakan pada tanur/ refractory. Tahap awal peleburan baik peleburan I dan II adalah proses charging yakni bahan baku–bijih timah atau Slag I dimasukkan kedalam tanur melalui hopper furnace. Dalam tanur terjadi proses reduksi dengan suhu 1100–15000C. Unsur–unsur pengotor akan teroksidasi menjadi senyawa oksida seperti As2O3 yang larut dalam timah cair. Sedangkan SnO tidak larut semua menjadi logam timah murni namun adapula yang ikut ke dalam Slag dan juga dalam bentuk debu bersamaan dengan gas–gas lainnya. Setelah peleburan selesai maka hasilnya dimasukkan ke foreheart untuk melakukan proses tapping. Sn yang berhasil dipisahkan selanjutnya dimasukkan kedalam float untuk dilakukan pendinginan/penurunan temperatur hingga 4000C sebelum dipindahkan ke dalam ketel. Sedangkan hardhead dimasukkan ke dalam flame oven untuk diambil Sn dan timah besinya.

5.        PEMURNIAN (REFINING)
a.       Pyrorefining
Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan panas diatas titik lebur sehingga material yang akan di refining cair, ditambahkan mineral lain yang dapat mengikat pengotor atau impurities sehingga logam berharga dalam hal ini timah akan terbebas dari impurities atau hanya memiliki impurities yang amat sedikit, karena afinitas material yang ditambahkan terhadap pengotor lebih besar dibanding Sn. Contoh material lain yang ditambahkan untuk mengikat pengotor yaitu:
·      Serbuk gergaji untuk mengurangi kadar Fe
·      Aluminium untuk untuk mengurangi kadar As sehingga terbentuk AsAl
·      Sulfur untuk mengurangi kadar Cu dan Ni sehingga terbentuk CuS dan NiS
Hasil proses refining ini menghasilkan logam timah dengan kadar hingga 99,92% (pada PT.Timah). Analisa kandungan impurities yang tersisa juga diperlukan guina melihat apakah kadar impurities sesuai keinginan, jika tidak dapat dilakukan proses refining ulang.
b.      Eutectic Refining
Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan crystallizer dengan bantuan agar parameter proses tetap konstan sehingga dapat diperoleh kualitas produk yang stabil. Proses pemurnian ini bertujuan mengurangi kadar Lead atau Pb yang terdapat pada timah sebagai pengotor. Adapun prinsipnya adalah berhubungan dengan temperatur eutectic Pb-Sn, pada saat eutectic temperature lead pada solid solution berkisar 2,6% dan akan menurun bersamaan dengan kenaikan temperatur, dimana Sn akan meningkat kadarnya. Prinsip utamanya adalah dengan mempertahankan temperatur yang mendekati titik solidifikasi timah.
c.       Electrolitic Refining
Yaitu proses pemurnian logam timah sehingga dihasilkan kadar yang lebih tinggi lagi dari pyrorefining yakni 99,99% (produk PT. Timah: Four Nine). Proses ini melakukan prinsip elektrolisis atau dikenal elektrorefining. Proses elektrorefining menggunakan larutan elektrolit yang menyediakan logam dengan kadar kemurnian yang sangat tinggi dengan dua komponen utama yaitu dua buah elektroda –anoda dan katoda – yang tercelup ke dalam bak elektrolisis.

6.             PENCETAKAN
Pencetakan dilakukan secara manual dan otomatis. Peralatan pencetakan secara manual adalah melting kettle dengan kapasitas 50 ton, pompa cetak and cetakan logam. Proses ini memakan waktu 4 jam/50 ton, dimana temperatur timah cair adalah 2700C. Sedangkan proses pencetakan otomatis menggunakan casting machine, pompa cetak, dan melting kettle berkapasitas 50 ton dengan proses yang memakan waktu hingga 1 jam/60 ton. Langkah–langkah pencetakan:
a.       Timah yang siap dicetak disalurkan menuju cetakan.
b.      Ujung pipa penyalur diatur dengan menletakkannya diatas cetakan pertama pada serinya, aliran timah diatur dengan mengatur klep pada piapa penyalur.
c.       Bila cetakan telah penuh maka pipa penyalur digeser ke cetakan berikutnya dan permukaan timah yang telah dicetak dibersihkan dari drossnya dan segera dipasang capa pada permukaan timah cair.
d.      Kecepatan pencetakan diatur sedemikian rupa sehingga laju pendinginan akan merata sehingga ingot yang dihasilkan mempunyai kulitas yang bagus atau sesuai standar.
e.       Ingot timah yang telah dingin disusun dan ditimbang.

7.             DISTRIBUSI DAN PEMASARAN (MARKETING)
Kegiatan pemasaran mencakup kegiatan penjualan dan pendistribusian logam timah. Pendistribusian logam timah hampir 95% dilaksanakan untuk memenuhi pasar di luar negeri atau ekspor dan sebesar 5% untuk memenuhi pasar domestik. Negara tujuan ekspor logam Timah antara lain adalah wilayah Asia Pasifik yang meliputi Jepang, Korea, Taiwan, Cina dan Singapura, wilayah Eropa meliputi Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol dan Italia serta Amerika dan Kanada.
Jenis-jenis produk yang diproduksi oleh PT Timah, Tbk. dibedakan atas kualitas dan bentuknya, yaitu:
a.         Berdasarkan kualitas produk dapat dibedakan atas:
·         Banka Tin (kadar Sn 99.9%)
·         Mentok Tin (kadar Sn 99,85%)
·         Banka Low Lead (Banka LL) yang terdiri atas:
Ø  Banka LL 200 ppm
Ø  Banka LL 100 ppm
Ø  Banka LL 80 ppm
Ø  Banka LL 50 ppm
Ø  Banka LL 40 ppm
·         Tin Alloy, dalam bentuk:
Ø  Babbit (kadar Sn 80-88 %)
Ø   Pewter (kadar Sn 91-95 %)
·         Tin Solder
b.        Berdasarkan bentuk dapat dibedakan atas:
·         Banka Small Ingot
·         Banka Tin Shot
·         Banka Pyramid
·         Banka Anoda

8.             PEMANFAATAN

Logam timah putih bersifat mengkilap, mudah dibentuk dan dapat ditempa (malleable), tidak mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat. Pemakaian timah biasanya dalam bentuk paduan timah yang dikenal dengan nama timah putih yakni campuran 80% timah, 11 % antimony dan 9% tembaga serta terkadang ditambah timbal. Timah putih ini terutama dipakai untuk peralatan logam pelindung dan pipa dalam industri kimia, industri bahan makanan dan untuk menyimpan bahan makanan.  Kegunaan timah putih lainnya adalah untuk melapisi logam lainnya yang berfungsi mencegah karat, bahan solder, bahan kerajinan untuk cendera mata, bahan paduan logam, chasing telepon genggam. Selain itu timah digunakan juga pada industri farmasi, gelas, agrokimia, pelindung kayu, dan penahan kebakaran. Timah merupakan logam ramah lingkungan, penggunaan untuk kaleng makanan tidak berbahaya terhadap kesehatan manusia. Kebanyakan penggunaan timah putih untuk pelapis/pelindung, dan paduan logam dengan logam lainnya seperti timah hitam dan seng. 

Cari

Copyright Text